Lebih Baik Pusing Karena Kerjaan dibandingkan Pusing Karena Nyari Kerjaan

 

Ini adalah pendapat pribadi, sangat dibolehkan untuk menyanggah bila ada yang tidak setuju dengan tulisan saya.

Tidak ada istilah zaman sekarang atau zaman dahulu mencari pekerjaan itu mudah. Zaman apapun saya pikir namanya mencari pekerjaan itu 'SILIT' ehhh 'SULIT' deng. Mau lulusan apapun saya pikir punya kesulitannya masing-masing.

Saat ini ada pernyataan jika 

Sempat beberapa waktu saya menemukan konten-konten di Tik-tok, Reels Instagram dan Youtube bahwa lebih baik resign dibanding mental health terganggu karena lingkungan kerja yang toxic.

Dari awal saya lulus, kemudian ikut internsip kemenkes 1 tahun dan setelahnya mulai melamar pekerjaan ke perusahaan saya merasa pesimis bahkan karena melihat Kualifikasi minimal yang harus dimiliki pelamar.

Akhirnya sambil jaga-jaga klinik saya mencoba menyisihkan penghasilan untuk menabung, agar bisa mengikuti Training ACLS dan ATLS. Namun setiap kali uang tersebut terkumpul cukup untuk Training, pikiran malah memikirkan untuk ganti Gadget, beli Laptop dan lain sebagainya.

Sampai pada suatu waktu saya mendapatkan Loker Dokter Mining Covid dengan persyaratan memiliki sertifikat ACLS. Dengan tidak tahu malu saya coba apply siapa tahu masuk. Dan benar CV saya direview dan diberi waktu untuk mempertimbangkan apakah akan lanjut atau tidak.

Dan dari momen ini juga saya menjadi tahu bahwa ada yang namanya rate per day. Sebelum saya menjawab lanjut untuk jadi Field Doctor Mining, saya sempat konsultasi ke Senior saya yang kebetulan sudah M.KK. Beliau mengatakan bahwa ambil saja walaupun ratenya kecil, karena lumayan untuk dimasukkan ke CV. Yak betul...! Poinnya adalah pengalaman kerja.

Pengalaman sangat sulit dicari, saya hampir tidak mau mengambil pengalaman tersebut karena kalimat senior saya yang lain. "Wah mending jaga kliniklah kalo cuma dapat segitu" pertimbangan ini tidak sebentar berkecamuk di dalam kepala. Sekitar 3 hari saya memikirkan untuk tetap lanjut atau merelakan kesempatan ini.

Untungnya saya adalah orang yang cukup tahu diri. Wajar jika rate per day saya hitungannya kecil, toh saya tanpa sertifikat ACLS dan cuma modal Hiperkes saja.

Yak pada akhirnya saya mereply bahwa saya tetap lanjut, dimana penempatan yang pada awalnya ke Muara Teweh akhirnya dialihkan ke Banjarmasin tepatnya ke Sungai Danau Jaya. Untung juga belum ada mengisi, namun saya maklum juga kenapa posisi ini masih kosong karena memang provider ini memberikan rate kecil dibanding provider medis lain.

Singkat cerita, kurang lebih 4 tahun saya bekerja saya sudah pindah 7 perusahaan dimana bukan tidak ada kesusahan atau kesulitan, kalaupun masuk ke perusahaan dengan mulus namun ketika bekerja di dalamnya tetap ada hal-hal yang kalau dibawa sampai ke hati bahkan anda pikirkan terus maka kesulitan yang harus kecil itu bisa anda anggap masalah besar. Sehingga membuat anda berpikir "Kenapa anda harus menderita karena pekerjaan anda".

Dan saya sudah menghilangkan pikiran-pikiran tersebut dengan cara bahwa saya hanya akan keluar ke perusahaan lain jika mendapatkan gaji yang lebih tinggi. Bukan karena saya ingin istirahat dari pekerjaan yang mungkin dianggap relatif berat bahkan menyiksa.

Satu sisi yang membuat kuat dan tetap semangat adalah butuh uang. Jadi tetaplah bekerja sambil mata melirik loker lain yang mungkin akan memberikan anda gaji yang lebih tinggi, benefit yang lebih banyak dan lain sebagainya.

Apakah memang betul lingkungan tempat anda bekerja toxic? Coba pikirkan baik-baik atau itu hanya karena emosi sesaat yang membuat anda menjadi alasan untuk tidak bekerja.

Namun bila memang kondisi keuangan anda aman-aman saja ketika anda resign dari pekerjaan tersebut, selamat anda adalah orang yang termasuk beruntung.

Ingat disini saya bukan ingin membandingkan, namun hanya ingin menyampaikan pandangan saya kepada rekan-rekan yang resign dari pekerjaan dengan alasan lingkungan kerja yang toxic. 

Komentar